We continue to publish references, and before being published and printed, we first apply for an International Series Book Number (ISBN) to the National Library, in Jakarta. ISBN application is done online and will be accepted after all requirements are declared complete

[Kami terus menerbitkan referensi, dan sebelum diterbitkan dan dicetak, terlebih dahulu, kami memohon International Series Book Number (ISBN) ke Perpustakaan Nasional, di Jakarta.  Permohonan ISBN dilakukan secara online dan akan diterima setelah seluruh persyaratan dinyatakan lengkap].

Memahami & memuliakan kebudayaan lewat Museum

Buku berjudul “Memahami & memuliakan kebudayaan lewat Museum” dimaksudkan memberi pemahaman terhadap kedudukan serta fungsi museum sebagai “ruang belajar interaktif, atraktif, dan rekreatif (interactive, attractive, and recreational learning space) yang berfokus pada warisan berwujud (tangible heritage) dan tak berwujud (intangible heritage) yaitu koleksi (collections) sebagai sarana, media, ataupun alat “memahami & memuliakan kebudayaan.” Defenisi museum hari ini, merujuk Majelis Umum Luar Biasa Dewan Museum Internasional (Extraordinary General Assembly of International Council of Museum [ICOM]) di Praha pada 24 Agustus 2022 mengeluarkan defenisi baru museum (new museum defenition), yaitu: “A museum is a not-for-profit, permanent institution in the service of society that researches, collects, conserves, interprets and exhibits tangible and intangible heritage. Open to the public, accessible and inclusive, museums foster diversity and sustainability. They operate and communicate ethically, professionally and with the participation of communities, offering varied experiences for education, enjoyment, reflection and knowledge sharing.”

Dewasa ini, berdasar Museum + Heritage Advisor (2022), paling tidak, 8 (delapan) kontribusi inovasi teknologi menjadi standar di museum: (1) pemetaan proyeksi mengubah ruang menjadi besar dan kecil (projection mapping is transforming spaces large and small), (2) teknologi binaural menambahkan lapisan yang imersif pada audio (binaural technology adds an immersive layer to audio), (3) ‘kembar digital’ melestarikan dan mereplikasi objek-objek halus, (digital twins’ preserve and replicate delicate objects), (4) donasi tanpa kontak dalam masyarakat tanpa uang tunai (contactless donations in a cashless society), (5) tampilan holografik menambah dimensi ekstra pada visual (holographic displays add an extra dimension to visuals), (6) aplikasi sebagai pemandu wisata yang mahatahu (apps as an all-knowing tour guide), (7) realitas virtual sebagai pintu gerbang menuju museum virtual (Virtual reality as a gateway to virtual museums), dan (8) teknologi arus pengunjung membuat pelacakan orang menjadi lebih cerdas (visitor flow tech makes tracking people smarter). Inovasi teknologi di museum, pada prinsipnya mengubah cara museum beroperasi dan memungkinkannya untuk memberikan pengalaman dan keterlibatan yang lebih mendalam, menarik, dan interaktif kepada seluruh pengunjung menjelajahi koleksinya.

Author              : Erond L. Damanik

Ketebalan         : 356 halaman

Terbit               : April 2024

Harga               : Rp. 29.500